Saat Anak Punya Tokoh Idola

Anak-anak suka menirukan gaya tokoh idolanya (Foto: Google)
 

MENGIDOLAKAN seorang superhero atau tokoh kartun, mungkin wajar-wajar saja bagi si kecil. Tapi bagaimana kalau buah hati Anda sudah mulai mengidolakan aktris remaja?

 
”Ayo semuanya bernyanyi…Biarkan… ku rela melepasmu meninggalkan aku,” teriak Lucas, 10, sambil menirukan gaya Giring Nidji. Bocah kecil ini begitu asyik menyanyikan lagu tersebut sambil terus bergoyang. Hampir semua lagu-lagu Giring dihafal olehnya. Maklum saja, Lucas memang penggemar berat Giring. Saking nge-fansnya, dia terus merengek meminta rambut kribo palsu mirip Giring kepada ibunya. Bukan main gembira hatinya ketika keinginan itu dikabulkan ibunda tercinta. Lucas pun selalu memakainya setiap dia keluar rumah.

”Aku mau jadi Giring kalo udah besar nanti,” ucap Lucas saat ditanya alasannya suka dengan tokoh idolanya itu.
 
Bagi anak-anak, mengidolakan seorang tokoh mungkin sudah biasa. Tokoh kartunlah yang biasanya menjadi idola mereka, seperti Teletubies, Power Rangers, Doraemon, dan Ben 10. Tidak heran juga jika anak-anak pun menggunakan perlengkapan tokoh idola mereka dari ujung rambut sampai ujung kaki. Namun sekarang, tokoh idola anak tidak sebatas tokoh imajinasinya saja.  Mereka sudah mulai mengidolakan artis muda seperti Afgan, Giring, dan lain-lain.
 
Anak-anak memang merupakan pengikut yang baik di dunia, terutama untuk sosok yang dekat dengan mereka atau sosok yang mereka senangi. Oleh sebab itu, tidak heran jika sifat anak akan mengikuti orang tuanya. Namun apa yang terjadi jika anak memiliki tokoh idola untuk mereka ikuti? Mereka pasti akan menggilai dan tidak sedikit juga yang menjadi pengikut gaya dari tokoh idola.

”Banyak anak mengidolakan orang tua, tetapi banyak juga anak yang mengidolakan orang lain selain orang tuanya sebagai panutan mereka, baik untuk bergaya maupun tingkah laku,” jelas psikolog keluarga, psikolog klinis, dan pengamat sosial dari Kasandra & Associates, Kasandra Putranto M Psi. Kasandra menuturkan, melihat seorang tokoh, biasanya adalah orang yang dilihat anak sebagai orang yang nyaris sempurna.

Sebenarnya tidak hanya anak-anak yang memiliki tokoh idola, melainkan semua orang pasti punya idola. Namun, di usia pertumbuhan inilah anak memang senang memperlihatkan apa yang mereka idolakan.
 
”Itu sangat wajar, setiap anak harus punya tokoh, mau itu Soekarno sampai tokoh imajinasi atau artis dan penyanyi boleh-boleh saja,” tandas Kasandra dalam acara peluncuran buku storygraph ”Catatan Si Boy” di Jakarta, belum lama ini.

Masih dikatakan Kasandra, mengidolakan seseorang itu boleh saja tidak ada masalah, selama itu membawa nilai positif untuk anak. Saat anak mengidolakan tokoh ”nyata” nya seperti artis atau penyanyi juga pemain band, maka orang tua juga tetap mengawasi. Karena tokoh yang dijadikan panutan oleh anak ini harus membawa hal yang positif. Misalnya saja, jika anak mengidolakan pemain band, maka ajarkan bahwa bermain musik itu bisa sukses jika bekerja keras, berusaha, dan tidak mudah menyerah.

Jika diambil dampak positifnya, maka tokoh idola bisa menjadikan dan mengolah anak untuk lebih kreatif. Di mana saat anak membayangkan tokoh idolanya, mereka pun akan berimajinasi yang membuat mereka menjadi kreatif dalam menirukannya. Mengidolakan tokoh juga bisa menjadikan anak untuk meniru tingkah laku positif dari tokoh yang diidolakannya.
Karena pada umumnya, tokoh idola lebih sering bertingkah laku positif semisal tidak boleh sombong, menjadi orang yang sabar untuk menuju sukses dan lainnya.
 
Selain itu, mengidolakan tokoh juga bisa membentuk karakter anak. Pendidikan karakter bisa didapat dari mana saja, baik dari orang tua maupun lingkungannya, termasuk mengidolakan tokoh anak yang menjadikan mereka terbentuk karakternya.

”Dengan anak memiliki tokoh idola, itu berarti juga membantu anak membentuk karakternya,” ujar psikolog lulusan Universitas Indonesia ini.
 
Jika tokoh idola mereka berbuat negatif, maka tidak ada salahnya jika memberikan alternatif tokoh idola lain kepada anak. Jelaskan kepada anak bahwa saat mengidolakan tokohnya, anak tidak harus meniru semua perilakunya. Namun, penting bagi orang tua agar tidak mencemooh anak bila tokoh idolanya dinilai kurang baik.

”Sampaikan kepada anak dengan cara yang baik agar mereka mau mendengarkan kita jika tokoh idolanya bertindak yang negatif,” saran psikolog yang berpraktik di Jl Pela Jakarta Selatan ini.
 
Umumnya anak mengenal tokoh idola dari tontonan televisi yang mereka lihat sehari-hari. Oleh sebab itu, para orang tua juga seharusnya ikut andil dalam menghadirkan tokoh yang mereka sukai dan di sinilah orang tua bisa menyaring tontonan anak-anak, termasuk tokoh idola yang nantinya akan disukai anak.
(Koran SI/Koran SI/tty) 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s